PKPU Galang Dana Bantuan Bayi Penderita Atresia Bilier

Ammar 1 Ammar 2 AmmarDepok – Senin (25/8/2014), Tim Lapors PKPU mengunjungi Kaffie Ammar Mutaqien bayi berusia 6 bulan penderita atresia bilier. Ammar merupakan bayi dari Ibu Yetty Kurniasih dan Bapak Romli. Mereka tinggal di Jalan Program Dalam I Rt 002/04 No.36, Pancoran Mas, Depok. Ibunya seorang ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya seorang guru SD swasta di Depok. Awalnya Ammar terlahir secara normal di klinik Graha Permata Ibu, Kukusan Depok. Hingga usia 1 bulan Ammar hidup secara normal. Saat Ammar berusia 2 bulan gejala penyakit mulai terlihat yaitu mata dan semua tubuhnya menguning. Saat itu orangtua Ammar hanya berfikir mungkin karena “kurang dijemur”. Akan tetapi kondisinya justru bertambah parah. Tubuhnya mengalami panas disertai demam dan langsung dibawa ke klinik Graha Permata Ibu. Ammar mendapatkan perawatan serta cek darah untuk mengetahui kondisi penyakitnya. Hasil cek darah di laboratorium menunjukkan bahwa Ammar mengalami HYPERBILLIRUBIN. Dikarenakan pelayanan dan alat-alat yang terbatas, maka Ammar dirujuk ke RS Fatmawati.

Di RS Fatmawati Ammar menjalani perawatan selama 10 hari. Namun kondisinya semakin menurun, akhirnya ia dirujuk ke RSCM dengan diagnosa dari RS Fatmawati KOLESFASIS dan ISK. Ammar dibawa ke RSCM dengan penanganan yang sudah hampir 2 bulan Ammar. Cek darah hingga biopsi dijalani Ammar di RSCM. Hasil diagnosa menunjukkan Ammar menderita atresia bilier. Atresia bilier merupakan penyakit langka dan bukan penyakit keturunan. Penyakit ini yang terjadi pada bayi baru lahir dengan rasio satu dari 10.000 anak. Kerusakan hati yang terjadi dari atresia bilier disebabkan oleh cedera dan kerugian (atresia) dari saluran empedu yang bertanggung jawab untuk mengalirkan empedu dari hati. Hilangnya saluran empedu menyebabkan empedu untuk tetap tinggal di hati. Ketika empedu membangun dapat merusak hati, menyebabkan jaringan parut dan hilangnya jaringan hati. Akhirnya hati tidak akan dapat bekerja dengan baik dan sirosis akan terjadi.

Berdasarkan informasi terakhir pasien disarankan oleh dokter untuk melakukan cangkok hati dengan biaya kurang lebih 1 milyar rupiah. Dana tersebut belum termasuk biaya obat dan operasional. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu, pasien belum melakukan cangkok hati. Transplantasi hati adalah pengobatan yang sangat sukses untuk atresia bilier dan tingkat kelangsungan hidup setelah operasi telah meningkat. Terkait hal tersebut, beberapa elemen masyarakat baik ormas, komunitas, dan mahasiswa telah terdorong untuk membantu Ammar. Donasi perorangan maupun lembaga yang telah terkumpul saat ini sekitar 60 juta-an (up date 27/8/2014). Operasi Ammar akan dilakukan pada saat usia 7 bulan, namun menurut dokter yg menangani, operasi bisa diundur pada usia 3 tahun jika di usia 7 bulan kondisi Ammar sehat dan tetap stabil. Akan tetapi bila usia 7 bulan Ammar mulai keluar darah dari saluran pengeluaran maka harus dilakukan operasi pencangkokan tersebut.

Alhamdulillah, PKPU pada tanggal 26 Agustus 2014 bertemu langsung dengan Ammar beserta keluarga di Kantor PKPU Pusat Condet, Jakarta. Hasil pertemuan itu PKPU berkomitmen akan membantu penggalangan dana bekerjasama dengan Tabung Peduli PKPU. Penggalangan dimulai pada tanggal 27 Agustus 2014 di seluruh jaringan program Tabung Peduli termasuk sekolah-sekolah. Selain itu PKPU juga akan menggalang dana dari donatur-donatur lainnya. Sebagai langkah awal, tim Lapors PKPU menyerahkan bantuan awal pada 26 Agustus 2014 di kantor PKPU Pusat Condet, Jakarta. (Warni/Hendy/Lapors PKPU)

Jika anda ingin berdonasi membantu Ammar silahkan mengirimkan bantuan anda melalui rekening  Bank Mandiri 1290005450057 a.n PKPU, apabila sudah mengirimkan donasi konfirmasi ke nomer 081511997578 atau Hotline PKPU 021-70607578.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>